Senin, 22 Februari 2016

14 February 2016

Mungkin semua anak didunia telah mengetahui bahwa membahagiakan orang tua adalah sebuah kewajiban. Tapi hanya sedikit dari anak manusia yang merasakan banyak sekali kenikmatan yang Allah berikan ketika kita menjadikan orang tua kita sebagai ladang amal kita didunia. Membahagiakan mereka berdua dengan hal yang mungkin terlihat sederhana namun bermakna dalam bisa jadi salah satu benyebab kita terselamatkan dari siksa kubur. 
Memberitahukan bahwa kacamatanya yang sudah siap bertugas hanya saja masih dalam posisi di kening karena belum diturunkan dan membuah beliau tersenyum menyadari kealpaannya mungkin adalah sebuah kisah sederhana yang banyak kita temui dalam keseharian, tapi tidak sedikit orang yang menyadari bahwa senyum orang tua kita saat kejadian tersebut bisa jadi penyebab bergugurannya dosa kita atau menjadi musabab datangnya order sebuah proyek besar dengan keuntungan yang lumayan. siapa tau.....

Masih banyak lagi kisah mengenai orang tua dan anak yang menjadi sebuah cerita penuh hikmah yang bisa kita petik dan ambil pelajarannya.Uwais al-Qarny mungkin salah satunya yang bisa kita tauladani dalam kesolehannya berbakti kepada ibunya.
 

Uwais Al Qarni Adalah seorang seorang pemuda dari Yaman yang telah yatim tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al-Qur'an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. 

Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak memengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.
Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah "bertamu dan bertemu" dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi Pertempuran Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat?

Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya.
Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata, "Pergilah wahai anakku! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang". Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah Sayyidah Fathimah binti Muhammad SAW, sambil menjawab salam Uwais.
Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang.
Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman," Engkau harus lekas pulang".
Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada Sayyidah Fathimah a.s. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rasulullah SAW, Sayyidatina Fathimah a.s. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi Sayyidah Fathimah a.s., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.
Rasulullah SAW bersabda : "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya." Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada Imam Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab dan bersabda, "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do'a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi".
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan Abu Bakar telah diestafetkan kepada Khalifah Umar bin Khattab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Ia segera mengingatkan kepada Imam Ali untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar bin Khattab dan Imam Ali mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.
Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar bin Khattab dan Imam Ali memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan salat. Setelah mengakhiri salatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh Nabi SAW. Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara? "Abdullah", jawab Uwais.
Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan, "Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?" Uwais kemudian berkata, "Nama saya Uwais al-Qorni".
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Imam Ali memohon agar Uwais berkenan mendo'akan untuk mereka.
Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah, "Sayalah yang harus meminta do'a kepada kalian". Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, "Kami datang ke sini untuk mohon do'a dan istighfar dari anda".
Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo'a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata, "Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi".
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan ditolong oleh Uwais, waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan salat di atas air.
Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. "Wahai waliyullah, tolonglah kami!" tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi, "Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!" Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata,
"Apa yang terjadi ?"
"Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?" tanya kami.
"Dekatkanlah diri kalian pada Allah!" katanya.
"Kami telah melakukannya."
"Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaani rrohiim!"
Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.
Lalu orang itu berkata pada kami ,"Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat". "Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? "Tanya kami.
"Uwais al-Qorni". Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, "Sesungguhnya harta yang ada dikapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir."
"Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?" tanyanya.
"Ya, "jawab kami. Orang itu pun melaksanakan salat dua rakaat di atas air, lalu berdo'a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke Rahmatullah.
Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.
Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, "ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan Umar bin Khattab)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.
Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, "Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa "Uwais al-Qorni" ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit

Kamis, 11 Februari 2016

3 Tahun

Alhamdullilah, tak terasa usia Hanindiva sudah melewati 3 tahun. Sebuah usia yang syarat makna, cintakasih dan kebahagiaan. Mungkin bagi sebahagian orang usia tiga tahun apalah artinya. Tapi bagi kami, setiap detik dalam kebersamaan kita, hidup dalam cinta kasih ayah, bunda dengan keberadaan ananda Hanin adalah sebuah paket sempurna sebuah kebahagiaan. Ayah sama bunda nga bisa membayangkan seandainya paket ini tidak selengkap ini, mungkin rumah tangga ayah dan bunda tidak akan bisa bertahan. Kamu adalah kebahagiaan kami, kesempurnaan hidup dan ladang amal kami. Sehingga kami tiada henti-hentinya berusaha untuk selalu menjalaninya dengan penuh rasa syukur kepada Allah SAW.

Tilisan ini adalah salah satu dari perwujutan rasa syukur ayah kepada Allah yang telah menghadirkan ananda dalam kehidupan kami. Jawaban dari salah satu hutang ayah yang akhirnya terbayarkan juga lewat tulisan 3 tahun ini sebagaimana janji ayah kepada diri ayah sendiri yang selalu berusaha untuk menceritakan semua hal indah yang kita lewati bersama walaupun cuma lewat sebuah blog sederhana ini.

Dan dari kesemuanya, alhamdullilah ulang tahun ananda kali ini tidak dirayakan di rumah sakit. 

Oiya nak, sekedar buat catatan saja; sesungguhnya dalam Islam tidak ada ya namanya merayakan ulang tahun ya nak. Catat itu dengan tinta merah.
Ulangtahun merupakan budaya kaum lain yang sangat tidak patut untuk kita rayakan. Jadi, dalam Islam, ulangtahun itu sendiri merupakan bentuk rasa syukur atas usia yang telah berjalan ini dengan lebih meningkatkan iman kita kepada Allah yang salah satu caranya adalah dengan menjalankan puasa.

Ketika Nabi ditanya mengapa engkau berpuasa senin kamis, maka jabanya adalah senin adalah hari kelahiranku dan kamis adalah hari dimana catatan amal kebajikan kita dikumpulkan. Atau lebih jelasnya kita bisa baca referensi dibawah ini:

Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ
“Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.”
(HR. Muslim no. 1162)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ
“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.”

(HR. Tirmidzi no. 747. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi yaitu shahih dilihat dari jalur lainnya).


Jika ananda suatu saat mendengar atau terlibat dalam sebuah diskusi mengenai perayaan ulang tahun nabi Muhammad SAW atau yang lebih dikenal dengan Maulid Nabi yang juga menjadi hari libur nasional di Indonesia, hal yang wajib nanda ketahui adalah, semua dalil perayaan itu adalah lemah dan tidak berdasar. Konon kabarnya orang yang pertama kali merayakanya merupakan ulama syiah yang sesat. walaupun tujuannya mulia sebagaimana referensi dibawah ini, tetapi yang jelas nabi dan para sahabat sendiri TIDAK PERNAH merayakannya.

https://id.wikipedia.org/wiki/Maulid_Nabi_Muhammad
Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn Al-Jauzi, Ibn Kathir, Al-Hafizh Al-Sakhawi, Al-Hafizh Al-Suyuthi dan lainnya telah sepakat menyatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan Al-Muzhaffar. Namun juga terdapat pihak lain yang mengatakan bahwa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi adalah orang yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi. Sultan Salahuddin pada kala itu membuat perayaan Maulid dengan tujuan membangkitkan semangat umat islam yang telah padam untuk kembali berjihad dalam membela islam pada masa Perang Salib

Terakhir catatan dari ayah, Ada sebuah tulisan seorang Istri yang ditujukan kepada suaminya yang juga sahabat ayah, om Yusdi mengenai ulangtahun yang nanda bisa jadikan referensi bagus buat kita. 

catatan Azizah Hudan

Ulang Tahun itu.....
Angkanya bertambah, jatah hidupnya berkurang...
Pagi ini juga hari-hari sebelumnya saya lagi-lagi tidak mengucapkan selamat kepada suami saya untuk ulang tahunnya, tidak juga mendo'akan sesuatu yang special di moment pertambahan angka nya.. begitu juga suamiku, dia juga ga pernah mengucapkan selamat atau do'a di sebuah moment yang kayanya special... bukan dendam, bukan juga karena tidak romantis.. bukaaan... tapi emang itu bukan budaya dan kebiasaan keluarga kami...
kata-kata suami saya yang makin buat saya tidak mau ngucapin selamat adalah : 
“jatah hidupku tinggal berapa lama lagi ya....” kata-kata yang ringan dari mulut suami saya tapi bikin saya nangis seketika,

“jangan ngomong gitu dooong, gimana kalau kita ternyata punya anak tapi kamunya ga ada...., aku ga mau sendiriiiaaaan” 
suami saya cuma peluk saya sambil bilang :”gaa gitu... 6 tahun lagi aku 40, terus abis itu 10 tahun kemudian 50, setelah itu makin deket ke 63 tahun... usia Rasulullah aja cuma sampai 63, aku dikasih jatah berapa lama ya...”
jadi cukup bisa dibayangkan kenapa saya tidak memberi selamat untuk pertambahan angka yang menandakan jatah hidup berkurang.. kalau saya kasih selamat artinya saya senang jatah hidup suami saya berkurang,,, keliatannya mikir kejauhan, mungkin kami bukan orang kebanyakan... anggaplah seperti itu.. tapi inilah kami... Tapi saya tetep berterimakasih untuk semua do’a yang dihaturkan untuk suami saya... semoga Allah membalas kebaikan teman-teman semua.. :)
terimakasih suamiku, untuk kata-kata yang bikin saya nangis lagi pagi ini... semoga hidup kita selalu diberkahi Allah Subhahuwata’ala, aamiiin
 

Senin, 09 Februari 2015

malam senin bersama ayah

Tadi malam, 8 februari 2015 ayah bunda dan hanin berencana makan diluar karena nampaknya musim hujan kali ini membuat hanin kurang bernafsu makan. beberapa kali makanan yang dengan susah payah dibuat bunda hanya bisa termakan 2 - 3 suap saja. sehingga ayah berinisiatif untuk makan malam diluar. mungkin dengan suasana yang ceria Hanin kembali bergairah mengunyah makanan yang disuapi bunda.
Allah telah menciptakan semua manusia dalam keadaan sempurna. lengkap dengan segala keunikannya. Dan salah satu keunikan Hanindiva adalah ketika Ia merasa sedang kurang fit, biasanya nafsu makannya juga sedikit berkurang. Disinilah sedikit kelemahan bunda, biasanya beliau ketika menghadapi kondisi demikian mulai deh mempergunakan kacamata unik versi Bunda Heni. berusaha sedikit ngotot mencoba menyuapin kamu dengan caranya. mungkin memang sedikit kurang bijaksana kelihatannya, tapi ya begitulah seorang ibu. dia akan berusaha semampunya guna menunjukkan rasa cintanya walaupun dengan caranya sendiri. Dan syukur Alhamdullilah kalau boleh ayah berucap, sikap keras dan berprinsip ayah yang tidak bisa didikte dan memiliki pendirian yang kuat jika sudah memutuskan sesuatu menitis jelas kedalam jiwa ananda Hanin. Lebih memilih memuntahkan dan menangis keras ketika situasi dan kondisi menjadi kurang nyaman bagi kamu adalah salah satu prilaku yang terbaca jelas oleh Ayah.
Biasanya jika sudah demikian, enin dan ayah akan sedikit meng-intervensi keadaan dan saling berbagi peran. Sebagai seorang ibu yang memililiki anak mantu seorang ibu muda biasanya enin lebih memilih posisi sebagai penasehat kerajaan, sedangkan ayah memilih sebagai mediator dan eksekutor akhir. Memutuskan makan diluar ketika alokasi dana entertain mulai menipis adalah sesuatu banget. 

Makan ayah boiler yang kurang sehat dilakukan sambil bermain prosotan di GIANT cisalak setidaknya sedikit banyak membawa hasil. jiwa yang senang dan dilakukan sambil bermain dengan rekan sebaya hingga saat ini masih menjadi salah satu cara cukup mujarap membuat ananda Hanin makan dengan lahap. Alhamdullilah ya Allah. kau tunjukkan jalannya. Mungkin suatu saat nanti, ayah bisa menemukan racikan resep yang tepat tentu saja dengan menu yang lebih menyehatkan dan pastinya terselenggara dengan tidak mengundang paksaan dan dilakukan dengan penuh suka cita dan keceriaan. 

Sekali mengayuh, 2 - 3 pulau terlampaui. ketika bunda sibuk mengejar Nanda Hanin bermain prosotan, ayah duduk sambil memantau sekeliling sekaligus cuci mata. Ada suatu kondisi yang memaksa ayah sedikit mengurus dada. dengan asiknya seorang ibu muda mesam-mesem sendirian sambil memandangi phonselnya, sementara anak balita-nya dibiarkan bermain sendiri di arena permainan yang membutuhkan pengawasan orang dewasa. Ketinggiannya, struktur bangunannya yang terdiri dari unsur besi dan kayu yang merupakan bagian dari benda keras yang akan sangat berbahaya untuk anak balita yang belum memahami proses berpikir sempurna mengkondisikan mereka dalam posisi potensi sangat berbahaya. Seandainya bunda yang seperti itu, nanda Hanin bisa pastikan ayah akan mengantikan posisi bunda sebagai seorang pelindung nanda Hanin, karena apa, karena kamu adalah cinta ayah yang akan selalu ayah lindungi dan ayah jaga dengan sepenuh jiwa raga.

dari situ kemudian ayah berpikih, mungkin suatu saat nanti jika kamu mulai berpikiran dewasa dan sudah memiliki kewajiban dan tanggungjawa terhadap diri sendiri, terhadap lingkungan dan keluarga dan terhadap sang maha pencipta. cerita dibwah ini bisa menjadi sebuah bahan perenungan. simak baik-baik isinya dan ambil benang merahnya yang bisa kau cerna dengan sepenuh hati ya sayangku. Semoga itu tidak terjadi sama kamu. amiennnn

Seorang gadis membeli sebuah Iphone6. Smartphone tersebut telah dilengkapi dengan pelindung layar dan ‘flip cover’ yang tak kalah cantiknya. Dia menunjukkan smartphone barunya tersebut ke ayahnya. Lalu, sebuah percakapan yang cukup menggugah pun dimulai:
Ayah: Wah, telepon genggam yang bagus. Berapa harga yang harus engkau bayar untuk itu?
Anak Perempuan: Saya membayar 700 dolar untuk telepon genggam ini, 20 dolar untuk penutup teleponnya, serta 5 dolar untuk pelindung layarnya.
Ayah: Oh, mengapa kamu menambahkan pelindung layar dan penutup teleponnya? Bukankah kamu dapat menghemat 25 dolar untuk itu?
Anak Perempuan: Ayah, saya telah menghabiskan 700 dolar untuk mendapatkan  telepon genggam ini. Jadi apa alasan saya tidak mengeluarkan 25 dolar untuk keamanannya? Dan lihatlah, penutup ini juga membuat telepon genggamku tampak lebih indah bukan?
Ayah: Bukankah itu suatu penghinaan bagi perusahaan Apple, Inc. Bahwa mereka tidak dapat membuat produk Iphone yang tidak cukup aman?
Anak Perempuan: Tidak, Ayah! Mereka bahkan menyarankan kepada penggunanya untuk menggunakan pelindung layar dan penutup telepon ini untuk keamanannya. Dan saya tidak mau terjadi sesuatu yang dapat membahayakan Iphone baru saya.
Ayah: Apakah itu tidak akan mengurangi keindahan telepon itu?
Anak Perempuan: Tidak. Itu justru membuat telepon genggam saya terlihat lebih indah.
Lalu, sang Ayah menatap putrinya dan tersenyum dengan rasa kasih sayang. Sang Ayahpun berkata,
“Putriku, kau tau Ayah sangat menyayangimu. Kau membayar 700 dolar untuk membeli Iphone ini, serta 25 dolar untuk melindunginya. 
Sedangkan Aku ayahmu, telah membayarkan seluruh hidupku untukmu, lalu mengapa engkau tak menutup auratmu dengan hijab untuk keselamatanmu sendiri? 
Telepon ini, kelak tidak akan dipertanyakan di akhirat nanti. Namun kelak aku akan ditanyai oleh Allah tentangmu, wahai putriku…”

Mohammad Bilal Syaikh
Diterjemahkan oleh: Khalila Indriana
source : http://www.fimadani.com/renungan-dari-sebuah-smartphone/

Jumat, 09 Januari 2015

2 tahun yang menakjubkan


16 November 2014 adalah tepat 2 tahun usia ananda Hanindiva Amirah Mazaya. Sebuah masa dimana anak manusia sedang dalam puncak masa kuluguannya. Mulai dari cara berbicara, cara berjalan, sampai tingkah pola ananda tidak lain adalah sebuah keajaiban yang menakjubkan. Kenapa ayah bilang demikian, karena jika ayah flashback beberapa bulan yang lalu, ananda Hanin hanyalah seorang bayi mungil yang lucu yang bisanya hanya menangis dan menangis. Kini karakter kamu sudah mulai terlihat. Ekspresi wajah saat berbicara lengkap dengan gerakan tangan ke pipi lawan bicara kamu supaya tatapan mereka hanya tertuju kepada kamu ketika kamu sedang berbicara. Atau gaya berjalannya yang kadang sengaja dibuat jinjit atau justru merangkak diatas ubin demi menjadikan dirimu sebagai pusat perhatian. 

Pola tingkah laku inilah yang membuat ayah dan bunda seakan tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah atas segala kebisaanmu hingga detik ini. Mungkin masa-masa saat inilah akan menjadi sebuah masa dimana para orangtua seakan rindu akan pengulangan kembali kemasa ini ketika mereka beranjak tua nanti. Saat-saat dimana kesepian mulai merasuki keseharian mereka. Kalau boleh mencomot bahasa enin, sehari aja nga ada Hanin di rumah, ada sebuah bintang yang hilang. Iya, kamu sekarang sudah menjadi bintang dirumah kita. Sebuah bintang ajaib yang selalu membawa keceriaan.

2 tahun ini adalah masa dimana kamu sudah mulai bisa diajak berdialog. Sudah mulai bisa menunjukkan keegoannya ketika tayangan TV tidak menayangkan acara kartun kegemaran-mu, Sudah mulai bisa diajari mengenal angka dan warna karena diusia ini pula angka 1 sampai 10 dan 3 warna pokok (merah, kuning, hijau) dan beberapa warna turunan seperti ping atau merah muda dan unggu juga sudah bisa kamu bedakan dengan baik. Kalau kata uti, jelas aja, wong anaknya bu guru he..he..
Diusia ini pula ananda Hanin sudah mulai bisa di tatur klo meminjam istilah bunda. Ayah sangat hapal ekspresi muka kamu ketika menahan pipis atau buang air besar. Sebuah ekspresi mimik serius sekaligus lucu yang slalu membuat ayah tersenyum bahagia. 
Klo melihat perkembangan anak secara umum, tidak banyak anak-anak seusia kamu yang sudah bisa melakukan pencapaian sebagaimana kamu alami diatas.
Memang, bagi sebagian besar orang tua, membicarakan tingkah pola anak adalah sebuah bahasan yang tidak pernah ada habisnya. Membandingkan kebisaan kamu dengan kebisaan anak-anak teman ayah dan bunda yang sebaya dengan kamu, ayah berani menjamin klo ananda Hanin lebih superior dari mereka. Walaupun ada beberapa sisi yang mereka juga memiliki keunggulan dibandingkan Hanin. Bunda pernah beberapa kali ngomong sama ayah klo teman-teman bunda jika sudah membicarakan kebisaannya anak mereka dirumah, hampir sebagian besar selalu mendominasi pembicaraan, bahkan ada beberapa yang tidak memberikan kesempatan lawan bicaranya untuk juga membicarakan kebisaan anaknya. Mungkin dia pikir hanya anaknya saja yang bisa memiliki kepandaian seperti itu.
Ayah jamin, Jika suatu hari nanti engkau memiliki anak dan ayah masih hidup sehat, pasti akan ada banyak percakapan yang bisa kita lakukan bersama. Sebuah percakapan antara orang tuanya orang tua dengan orang tua baru seperti kamu. Dan ketika hari itu tiba, satu hal yang kamu harus tau, menjadi seorang ayah dari putri bernama Hanin adalah anugrah terbesar yang tuhan berikan kepada ayah. Dan ketika masa itu juga sampai kepadamu, ayah cuma bisa berucap, banyak-banyaklah bersyukur kepada-Nya atas apa yang kamu alami sebagaimana apa yang ayah dan bunda alami ketika tulisan ini ayah buat. Dan Insya Allah, ayah akan selalu punya waktu untuk mendengarkan setiap curahan kebahagiaan seorang ibu bernama Hanin. Ayah akan meluangkan semua waktu ayah untuk sekedar menatap wajah kamu yang berseri-seri menceritakan cucu ayah sebagaimana teman kolega ayah dan bunda saat ini. Dan ayah hanya bisa mengucapkan beribu maaf jika waktu yang dinantikan itu tidak pernah terjadi karena ayah sudah menghadap Allah terlebih dahulu, sesungguhnya jika kamu membaca tulisan ini lalu ananda menatap keatas sejenak, kamu bisa membayangkan seorang putri cantik sedang bersandar dibahu ayahnya sambil mengendong anaknya yang lucu. Maka saat itu juga, kamu bisa pastikan klo saat itu, ayah pasti sedang tersenyum bahagia di alam sana.

Anakku tercinta dan slalu ayah cintai, jadilah orangtua yang paripurna. Seandainya memungkinkan, rawatlah anakmu dengan tanganmu sendiri. Karena tiada sesuatu yang lebih murni dan tulus didunia ini selain cinta dan sayangnya seorang tua terhadap anak kandungnya sendiri. Karena penyesalan ayah saat ini adalah, ayah sudah banyak melewatkan banyak waktu terbuang tampa dirimu disisi ayah.

Dari orang tua yang slalu mencintaimu
Ayah soe, 07.01.2015 - 17.20 wib



Kamis, 23 Oktober 2014

Hermina depok, 21 Oktober 2014

Semuanya berawal dari makanan. Ya, sudah 1 minggu ananda Hanin kurang berselera makan. Orangtua mana yang tidak merasa khawatir ketika anaknya tidak berselera makan? Sedangkan makanan bagi seorang anak adalah hal terpenting karena dalam masa pertumbuhan.   
sudah berbagai makanan kita coba tawarkan. Mulai dari ayam kriuk, ikan lele, roti, sayur mayur sampai coklat dan es cream diusahakan demi ada yang masuk ke tubuh ananda. tapi memang hanya 2 makanan terakhir itulah yang bisa masuk itupun dengan sedikit saja. biasanya klo udah ngeliat bungkus coklat atau es cream, belum juga dibuka pasti ananda sudah bersorak kegirangan.
Semua panik, semua repot dan semua menyarankan sesuatu, tapi tetap saja belum ada obat yang manjur untuk menenangkan kami berdua sebagai orangtua Hanin. Walaupun Hanin masih minum asi, suatu hal yang sedikit banyak bisa membuat hati sedikit tenang karena minimal asupan gizi dasar yang diperlukan seorang balita bisa terpenuhi. tapi sampai kapan. bulan depan usia Hanin menginjak 2 tahun, sebuah batasan atas seseorang mendapatkan ASI eklusif. Sebuah usaha sendiri sudah, melibatkan Allah juga sudah dilakukan lewat untaian doa dan permohonan. tapi rasanya jugalah kurang tepat apabila kami sebagai orangtua tidak melibatkan orang lain yang memang ahlinya, ya, seorang dokter yang memang karena keilmuannya menjadi lebih berkopeten dalam memberikan rujukan mengenai keadaanmu nak.
Sejak asupan makanan berkurang drastis, otomatis makanan yang dicerna juga berkurang yang berimbas kepada kotoran yang dikeluarkan menjadi cair dan sedikit menghawatirkan kami. Atas saran enin, maka kita sepakat membawa ananda Hanin ke RS Remina Depok selasa malam, 21 Oktober 2014. Setelah melalui serangkaian tes dan berkonsultasi guna mencapai hasil terbaik bersama dr Handarmi, Sp. A rujukannya adalah perawatan inap. dengan disposisi bahwa perawatan disini lebih mudah terpantau untuk dilakukan tindakan preventif yang bisa dilakukan dibandingkan dengan perawatan jalan. Insya Allah jika terapi obatnya cocok, nanda Hanin bisa segera dibawa pulang.

Serangkaian tes pertama yang dilakukan setelah mendapatkan kamar adalah mencoba melihat kondisi lambung dengan tes ronsen disambung dengan pemeriksaan darah dan pup. Syukur alhamdullilah, keadaan fasesnya mulai mengeras yang mengindikasikan bahwa buang air besarnya sudah mengarah ke pemulihan. namun dr Hendarmi justru melihat bahwa ronsen dada ananda Hanin ada sedikit kotor. Indikasi awal dari Tubekolosis, yang ditandai dengan seringkalinya sang anak yerkena batuk yang berkepanjangan dan lama sembuhnya. Memang demikianlah keadaannya. toeh kami pikir mungkin karena cuaca yang kurang kondusif ditambah stamina tubuh yang lagi menurun dan asupan makanan yang kurang lengkap salah satu penyebab batuknya ananda. 

Indikasi buang air besarnya yang encer dan cenderung cair sudah mulai membaik, namun dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan mantoux (http://id.wikipedia.org/wiki/Tes_Mantoux) guna memastikan ada tidaknya indikasi TB dalam tubuh ananda Hanin. 

26 Oktober kita melakukan kontrol ke RS Meilia Cibubur yang juga menjadi tempat prakter dari dr Hendarmi yang kami pilih karena bertepatan dengan hari sabtu, karena disamping waktunya lebih leluasa karena hari libur, setidaknya sedikit memberikan kepada kami sebagai orangtua untuk lebih bisa mencari berbagai opini tambahan seandainya perlu tindakan pemulihan lanjutan.

Sekali lagi pelibatan Allah dalam masalah ini menjadikan keringanan dan kemudahan selalu menyertai. Waktu periksa dan konsultasi yang lebih lama bisa kita dapatkan saat itu. Sumber rujukan dan suasana rumah sakit yang nyaman dan tidak terlalu ramai juga tergambar jelas ketika itu. Dan yang terpenting, hasil tes-nya negatif.

Alhamdullilah wa syukurrillah. Ananda Hanin mulai lahap kembali makannya sebagai indikasi awal pemulihan. Biaya rumah sakit ter-recovery sebagian besar oleh asuransi prudential yang bunda ikuti buat nanda Hanin, dan yang terpenting keceriaan Hanin itu adalah obat terbaik buat kami. Allah maha bijaksana, Dia tidak akan memberikan coabaan diluar kemampuan hambanya. Potret gaya nanda Hanin diacara syukuran khitanan kaka Andrey menjadi bukti kita semua kalau Allah memang sayang sama kita

 

Senin, 07 Juli 2014

Mba Winda pengasuhku

CERITA AYAH
Suatu sore teman ayah pernah bercerita kalau seandainya saja dia memiliki uang sekoper, apakah mungkin akan mempercayai kuncinya dipegang oleh seorang pembantu. Jika tidak, mengapa banyak dari teman-teman, termaksud ayah sendiri yang lebih mempercayai pola pengasuhan anaknya oleh seorang pengasuh yang mungkin SD saja tidak tamat. Apakah seorang anak tidak lebih berharga dari sekoper uang? 
Ada pula cerita mengenai seorang ibu yang disindir sama temannya karena memiliki pendidikan yang tinggi lulusan universitas negeri ternama Indonesia tetapi lebih memilih menjadi ibu rumah tangga saja. Dengan bahagianya sang ibu menjawab setidaknya anak saya mendapatkan pola asuh terbaik dari orang yang sangat mencitainya dengan setulus hati yang notabene juga merupakan lulusan terbaik universitas negeri ternama dinegeri ini, dibandingkan dengan anak kamu yang mungkin SD saja tidak tamat.

dari kedua cerita diatas sebenarnya ayah lebih merasa tersinggung dengan cerita kedua. Pertama karena cerita itu mirip dengan kisah kita, cerita ini juga sedikit banyak mengorek rasa keibuan siapapun juga yang membacanya. Dan mungkin dari semua ibu yang ada didunia ini, kalau dia memang benar seorang ibu jika memakai bahasa pak ustad, pasti tidak akan rela menyerahkan anaknya dibawah pengasuhan seorang pembantu. begitu juga dengan ayah dan bunda - ketika mereka bercerita kepadaku kelak. Mungkin jika situasi dan kondisinya sudah memungkinkan, ceritanya akan berbeda.  Dan satu hal yang sangat ditekankan oleh ayah kepada bunda, apappun pilihan profesi bunda, Insya Allah jika itu baik, pasti ayah support. Menjadi Ibu Rumah Tangga itu pilihan yang bijaksana, tetapi menjadi guru juga pekerjaan mulia. Insya Allah setiap anak yang diajarkan oleh bunda dan menjadi pandai akan menjadi amal jariah sepanjang usia anak-anak tersebut.

16 Oktober 2014 adalah hari kelahiran gadis ini 15 tahun yang lalu, walaupun waktu itu dia mengaku baru berumur 16 tahun ketika bunda meminta KTP-nya sebagai bagian dari bentuk wawancara ketika pertama kali kita semua bertemu dengannya, toeh akhirnya mba Winda mengakui juga bahwa usianya saat ini baru menginjak 15 tahun. Hal ini diceritakan bunda kepada ayah pada suatu malam selepas kami berdua mengeloni Hanin sampai tertidur.
"emang gimana ceritanya dia bisa ngaku?" cetus ayah ketika bunda menceritakan bahwa sebenarnya Mba winda baru berusia 15 tahun.
emang si pertamanya dia mancing-mancing percakapan dengan mengatakan bahwa "memang tampang saya sudah tua ya bu" cetusnya sambil mancuci dot susu.
"kenapa emang, dah mau kawin ya? balas bunda nga kalah sibuk"
"engga bu, cuma mau tanya aja, sebenarnya Oktober nanti saya baru 15 tahun loeh bu?"
"oallllla ndoe .... ndoe...., kenapa juga kamu pake bohong segala?"
"disuruh mas xxxx (perantaranya waktu dia ngelamar kerja) katanya dengan polosnya"

Tanggal 27 April 2014, adalah hari pertamanya bekerja dirumah kita. Dengan membayar penggantian transport jemput Rp. 500.000 akhirnya mba Winda resmi menjadi pengasuh Hanin. Berselang 3 hari kemudia, akhirnya kita semua pindah ke Depok. 

Semoga saja ini jawaban do'a ayah. Dikirimkan seorang pengasuh yang mencintai Hanindiva sepenuh hati dan bekerja tulus dan Ikhlas karena Allah, bukan ketika didepan kita saja atau ketika ada yang mengawasi. tapi dari gelagatnya, ayah bisa baca kalau sesungguhnya mba winda memang seorang pencinta anak. setidaknya ini hasil opservasi sementara ayah kepadanya dalam beberapa hari ini. 






Senin, 23 Juni 2014

TUMBUH GIGI MEMBUAT NGA ENAK MAKAN

CERITA AYAH


Menyambung tulisan ayah sebelumnya tangisan-pertamamu.html Ayah ingin bercerita mengenai Hanindiva dan kepindahan kerumah enin di depok. Awalnya ayah mengira bahwa proses adaptasi membuat ananda Hanin sedikit tidak bernafsu dalam mengunyah makanan yang bunda suapi ke Hanin sepulang kami dari beraktifitas. Om Anto pernah bercerita kepada Ayah bahwa proses pergantian pengasuh biasanya sedikit banyak berpengaruh terhadap perkembangan seorang anak. Tapi ayah pikir, anak hebat ayah tidak seperti anak kebanyakan lainnya. Hanin terkenal hebah dalam bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Dikenal pula sebagai perempuan yang tidak takut terhadap orang baru, pandai membaur, serta gaya bicaranya yang belum banyak dipahami oleh orang dewasa kadangkala justru menjadi daya tarik tersendiri yang membuat kami semua tersenyum bahagia. Ya, itulah Hanindiva yang kita kenal. jadi kepindahan kita ke Depok ayah rasa tidak menjadi kendala yang berarti.

Sampai 1 bulan kita tinggal di Depok, nafsu makan Hanindiva belum juga kembali seperti sedia-kala. Setelah melalui proses pencarian menyimpulkan bahwa pertumbuhan gigi geraham atas dan bawah, gigi samping atas dan bawah sebelah kiri dan ataslah yang menurut kami menyebabkan nafsu makan Hanin menurun drastis. Dari yang biasanya bunda kewalahan menyuapi karena sibuk memisahkan duri ikan kesukaan hanin dibandingkan jeda waktu mengunyah yang membuat kami semua bersyukur bahagia. Seorang Hanindiva memiliki pola dan nafsu makan yang sangat baik, kini tiba-tiba menjadi anak yang sukar makan. 

Ketika ada tawaran piknik dengan biaya pribadi ke Taman Safari Indonesia, tanggal 31 Mei 2014, Ayah langsung memutuskan untuk ikut turut serta. Walaupun rasanya cukup berat untuk menanggung biaya Rp. 208 ribu/orang dewasa dan Rp. 117 Ribu/anak pada akhir bulan tidak menyurutkan tekat ayah untuk turut berpartisipasi. Insya Allah niat ayah membawa Hanin melihat pola dan tingkah laku binatang bisa mengembalikan nafsu makan Hanin seperti sediakala. Puji Syukur kepada Allah ayah panjatkan atas segala karunianya karena disamping mendapatkan harga spesial dari panitia, proses pembayarannya-pun atas turut campur Allah lewat jalan yang tidak disangka-sangka. Alhamdullilah kendala pertama berhasil dilalui.

Sabtu pagi bunda sudah sibuk didapur menyiapkan omlet kentang resep dari orangtua murid bunda khusus diracik untuk Hanindiva tercinta. Singkat cerita, jam 5 bunda beres, lalu menggantikan baju Hanin yang saat itu masih terlelap, sementara Ayah menyiapkan perbekalan dan segala sesuatu yang harus dibawa karena pulang dari Taman Safari kita sudah merencanakan untuk menginap di Gondrong untuk melepas kangen Embah dan anti Indri dengan Hanindiva.  

kalau biasanya kebanyakan anak kecil lainnya menagis ketika tidurnya merasa terganggu, justru ayah menemukan seutas senyuman termanis seorang Hanin ketika terjaga dari tidurnya sesaat ketika bunda mengganti piyama tidur dengan baju untuk pergi membuat sekali lagi bunda dan ayah tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah. Subhanalllah, spontan bunda berucap yang memancing ayah untuk menoleh dan turut menikmati pemandangan yang sangat menakjubkan dipagi itu. Hanindiva, Putri tercinta kami memang indah dipandang mata (qurrotaaini).

Sabtu pagi, Jam 5.30 dengan dilepas oleh enin dan mba winda kita berangkat naik motor ke kantor ayah dimana bis telah menunggu. Sekitar jam 6.20 sampai 6.30 tak henti-hentinya panitia menghubungi hp ayah guna menanyakan kabar lokasi kita. Maklum saja nak, karena ayah membawa 2 wanita istimewa dalam hidup ayah, maka ayah nga mau mengambil resiko. lagipula perjanjian awalnya adalah 6.30. karena mereka memprediksi buka tutup jalur puncak, maka secara sepikah mereka memajukannya menjadi pukul 6.00 sebagai waktu berkumpul yang disepakati. Alhamdullilah, biar lambat asal selamat, 6.35 kita tiba di dikantor dan langsung memarkir motor di baseman floors kantor. Tampa menunggu lama, bis-pun berjalan memasuki jalan MH Tamrin, melewati semanggi dan masuk Tol dalam kota. 

Perjalanan sampai ciawi berjalan dengan lancar, hambatan mulai dirasakan ketika bis keluar dari tol dan memasuki kawasan puncak. antrian panjang mulai terlihat selepas tol membuat juru mudi memutuskan untuk memutar haluan kearah sukabumi untuk berputar di pasar ciawi menuju Puncak. Baru beberapa menit bis berjalan merayap, waktu buka tutup jalur puncak ternyata telah diberlakukan. Persis depan sebuah pom bensin kita berhenti selama kurang lebih 1 jam. kesempatan ini tidak disia-siakan oleh banyak rekan-rekan ayah yang turun untuk ke kamar mandi. Termasuk juga kaka Abiayan teman baru Hanin yang harus buang air besar dan mengganti popoknya. sedangkan hanin, asik mengunyah omelet buatan bunda. emmmmm, nyamieeeee.

waktu mendekati jam 10 pagi ketika bus mulai memasuki area binatang Taman Safari. Hanin yang lagi asik makan omelet made iin bunda awalnya tidak terpengaruh dengan keramaian yang terjadi didalam bus yang heboh ketika ada seekor macan menyebrang jalan dan menghalangi bus yang kita naiki. Baru setelah ayah gendong kamu ke kaca dimana terlihat beragam binatang yang lucu dan menggemaskan senyuman Hanin mulai menghiasi suasana. Ha.. ha... ha..., dari banyak peserta yang ikut, ternyata lebih heboh para orangtuanya dibandingkan anak-anaknya. Jadi sebenarnya ini acara anak-anak apa sekumpulan orangtua yang norak ya ;-)

Turun dari bis kita semua mulai berpencar. Arena permainan pertama yang kita bertiga nikmati adalah naik kereta mini. Bersama tante Ipeh dan tante Risma, kita ikut mengantri kereta mini yang baru saja berangkat. Sayangnya gerimis yang berlangsung sedikit mengurangi kenyamanan kita menikmati jalannya kereta api. walaupun Hanin terlihat sangat senang karena gemericik air hujan yang mengenai sebagian tangan dan kaki. Bunda dengan sigap melindungi kepala hanin dari terpaan air hujan.

Selepas kereta pilihannya adalah antara makan dan sholat dzuhur. Dan kami semua memutuskan untuk makan dahulu mengingat Hanin, Abiayan, dan lifki belum sarapan berat. Gado-gado yang bunda pesan manya dimakan sedikit oleh Hanin. Ya Alhadullilah, setidaknya ada asupan berat yang masuk cetus ayah kepada bunda. 

Lepas dari makan dan ketika ayah membeli tiket bis keliling, ternyata tante Risma dan tante Ipeh meninggalkan kita. Jadilah kita bertiga bengong sendiri sebelum akhirnya memutuskan untuk naik bis keliling dan memutuskan untuk tidak turun di wahana koboy karena melihat kondisi Hanin yang terlelap dipangkuan bunda. Suara berisik dari pistol yang meletup-letup menjadi alasan utamanya. Begitu pula dengan wahana aneka satwa dan atraksi pinguin. Sampai diterminal bis keliling atas, kita turun dan sholat sambil menunggu Hanin terbangun lalu kita kembali berkeliling.

Ternyata ada yang penasaran loeh de, waktu ayah memutuskan untuk masuk ke rumah hantu, bunda terlihat ragu. teguran petugas yang tidak mengijinkan anak balita untuk masuk membuat bunda langsung spontan keluar dari barisan antrian. 5 menit setelah ayah masuk lengkap dengan cerita situasi dan keadaan didalam kembali membuat kebimbangan bunda bertambah, antara takut dan penasaran. Untung aja kita ketemu om Arif dan naila anaknya yang berusia sekitar 10 tahun. dorongan dari ayah untuk mengurangi ketakutan bunda ditambah keberhasilan ayah melobi kaka Naila untuk pindah duduk dengan bunda sementara Om arif duduk sendiri di depan mereka. 

ha..ha..ha.., tau nga nak, bunda keluar dengan tangan gemetaran dan muka yang sedikit pucat. sementara kaka Naila ter-senyum" sendiri. Bahkan sampai kerumahnya Om arif cerita sama ayah keesokan harinya kalau cerita Naila menemani bunda yang ketakutan diceritakannya kepada semua orang dirumahnya sebagai bagian dari rangkaian cerita Naila hari itu. 

Naik bangku melayang dengan dipangku bunda adalah momen yang baik buat Hanin untuk tampil berani walaupun pada awalnya sedikit takut dan tegang. Pelukan seorang ibu menurut ayah yang menjadikan Hanin nyaman dan mulai bisa tersenyum. Sehingga inilah saat yang tepat bagi ayah untuk mengabadikan momen tersebut lengkap dengan gambar hidupnya (video) karena posisi ayah yang berada didepan kalian membuat ayah leluasa mengambil gambar kalian. 

Makan sudah, melihat binatang juga sudah, keliling menaiki beberapa wahana seperti kincir angin, dan bangku melayang juga sudah. kini saatnya kita pulang. Persis jam 5 bis mulai bergerak pulang, walaupun merambat karena hujan dan kemacetan didaerah puncak, Alhamdullilah sekitar jam 8 kita sudah sampai kembali dikantor ayah. Hujan yang belum juga berhenti membuat Bunda memutuskan untuk naik taksi saja kerumah embahnya. Sepanjang perjalanan di bis hanin tertidur dengan lelap, mungkin setelah memulihkan tenaga, di taxi biru hanin terlihat ceria. mulai dari duduk dilantai taxi, melihat keramaian jalan jakarta dimalam hari sampai heboh membongkar plastik makanan yang diberikan oleh tante Nita di bis tadi pagi. Baterainya sudah penuh di charge nih bun, tutur ayah pada bunda.

Temu kangen bersama Embah dan Anti Indri lengkap dengan Hanin yang senang melihat binatang dan Ayah yang sempat berfoto bersama macan adalah rangkaian cerita yang tak henti-hentinya di tuturkan bunda kepada Embah dan Anti. Siangnya kita kembali pulang ke depok setelah sebelumnya mengambil motor dahulu dikantor ayah. Selepas sholat ashar kita berangkat melewati PGC sambil sekalian melepas magrib Bunda meminta ayah untuk mampir ke HookBen. Ada haru dan suka cita disana. Setelah sebulan lamanya Hanin kurang bernafsu makan, Ayah dan bunda seakan menemukan kembali Hanin yang hilang, seorang Hanin yang makan dengan lahapnya membuat bunda meneteskan air mata seakan menjawab doanya selama ini. Terimakasih Tuhan, engkau kembalikan nafsu makan anak kami. 

Minggu malam disertai gerimis perjalanan Menteng sampai PGC dan menyaksikan saat dimana Hanindiva makan dengan lahap serta perjalanan yang lancar dan selamat sampai kembali ke depok adalah rangkaian cerita yang selalu ayah dan bunda kenang. bahkan acap kali kita lewat depan PGC, bunda selalu tersenyum mengenang ini. Nga sia-sia antrian panjang saat keluar dari parkiran yang mengular ya yah, klo akhirnya kita bisa menyaksikan anak kita kembali makan dengan lahapnya. Allah membayar kesabaran kita dengan indah ya bun ..... ucap ayah sambil menggenggam tangan bunda yang melingkar di pingang ayah ketika kita berangkat kerja keesokan harinya.