Senin, 23 Juni 2014

TUMBUH GIGI MEMBUAT NGA ENAK MAKAN

CERITA AYAH


Menyambung tulisan ayah sebelumnya tangisan-pertamamu.html Ayah ingin bercerita mengenai Hanindiva dan kepindahan kerumah enin di depok. Awalnya ayah mengira bahwa proses adaptasi membuat ananda Hanin sedikit tidak bernafsu dalam mengunyah makanan yang bunda suapi ke Hanin sepulang kami dari beraktifitas. Om Anto pernah bercerita kepada Ayah bahwa proses pergantian pengasuh biasanya sedikit banyak berpengaruh terhadap perkembangan seorang anak. Tapi ayah pikir, anak hebat ayah tidak seperti anak kebanyakan lainnya. Hanin terkenal hebah dalam bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Dikenal pula sebagai perempuan yang tidak takut terhadap orang baru, pandai membaur, serta gaya bicaranya yang belum banyak dipahami oleh orang dewasa kadangkala justru menjadi daya tarik tersendiri yang membuat kami semua tersenyum bahagia. Ya, itulah Hanindiva yang kita kenal. jadi kepindahan kita ke Depok ayah rasa tidak menjadi kendala yang berarti.

Sampai 1 bulan kita tinggal di Depok, nafsu makan Hanindiva belum juga kembali seperti sedia-kala. Setelah melalui proses pencarian menyimpulkan bahwa pertumbuhan gigi geraham atas dan bawah, gigi samping atas dan bawah sebelah kiri dan ataslah yang menurut kami menyebabkan nafsu makan Hanin menurun drastis. Dari yang biasanya bunda kewalahan menyuapi karena sibuk memisahkan duri ikan kesukaan hanin dibandingkan jeda waktu mengunyah yang membuat kami semua bersyukur bahagia. Seorang Hanindiva memiliki pola dan nafsu makan yang sangat baik, kini tiba-tiba menjadi anak yang sukar makan. 

Ketika ada tawaran piknik dengan biaya pribadi ke Taman Safari Indonesia, tanggal 31 Mei 2014, Ayah langsung memutuskan untuk ikut turut serta. Walaupun rasanya cukup berat untuk menanggung biaya Rp. 208 ribu/orang dewasa dan Rp. 117 Ribu/anak pada akhir bulan tidak menyurutkan tekat ayah untuk turut berpartisipasi. Insya Allah niat ayah membawa Hanin melihat pola dan tingkah laku binatang bisa mengembalikan nafsu makan Hanin seperti sediakala. Puji Syukur kepada Allah ayah panjatkan atas segala karunianya karena disamping mendapatkan harga spesial dari panitia, proses pembayarannya-pun atas turut campur Allah lewat jalan yang tidak disangka-sangka. Alhamdullilah kendala pertama berhasil dilalui.

Sabtu pagi bunda sudah sibuk didapur menyiapkan omlet kentang resep dari orangtua murid bunda khusus diracik untuk Hanindiva tercinta. Singkat cerita, jam 5 bunda beres, lalu menggantikan baju Hanin yang saat itu masih terlelap, sementara Ayah menyiapkan perbekalan dan segala sesuatu yang harus dibawa karena pulang dari Taman Safari kita sudah merencanakan untuk menginap di Gondrong untuk melepas kangen Embah dan anti Indri dengan Hanindiva.  

kalau biasanya kebanyakan anak kecil lainnya menagis ketika tidurnya merasa terganggu, justru ayah menemukan seutas senyuman termanis seorang Hanin ketika terjaga dari tidurnya sesaat ketika bunda mengganti piyama tidur dengan baju untuk pergi membuat sekali lagi bunda dan ayah tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah. Subhanalllah, spontan bunda berucap yang memancing ayah untuk menoleh dan turut menikmati pemandangan yang sangat menakjubkan dipagi itu. Hanindiva, Putri tercinta kami memang indah dipandang mata (qurrotaaini).

Sabtu pagi, Jam 5.30 dengan dilepas oleh enin dan mba winda kita berangkat naik motor ke kantor ayah dimana bis telah menunggu. Sekitar jam 6.20 sampai 6.30 tak henti-hentinya panitia menghubungi hp ayah guna menanyakan kabar lokasi kita. Maklum saja nak, karena ayah membawa 2 wanita istimewa dalam hidup ayah, maka ayah nga mau mengambil resiko. lagipula perjanjian awalnya adalah 6.30. karena mereka memprediksi buka tutup jalur puncak, maka secara sepikah mereka memajukannya menjadi pukul 6.00 sebagai waktu berkumpul yang disepakati. Alhamdullilah, biar lambat asal selamat, 6.35 kita tiba di dikantor dan langsung memarkir motor di baseman floors kantor. Tampa menunggu lama, bis-pun berjalan memasuki jalan MH Tamrin, melewati semanggi dan masuk Tol dalam kota. 

Perjalanan sampai ciawi berjalan dengan lancar, hambatan mulai dirasakan ketika bis keluar dari tol dan memasuki kawasan puncak. antrian panjang mulai terlihat selepas tol membuat juru mudi memutuskan untuk memutar haluan kearah sukabumi untuk berputar di pasar ciawi menuju Puncak. Baru beberapa menit bis berjalan merayap, waktu buka tutup jalur puncak ternyata telah diberlakukan. Persis depan sebuah pom bensin kita berhenti selama kurang lebih 1 jam. kesempatan ini tidak disia-siakan oleh banyak rekan-rekan ayah yang turun untuk ke kamar mandi. Termasuk juga kaka Abiayan teman baru Hanin yang harus buang air besar dan mengganti popoknya. sedangkan hanin, asik mengunyah omelet buatan bunda. emmmmm, nyamieeeee.

waktu mendekati jam 10 pagi ketika bus mulai memasuki area binatang Taman Safari. Hanin yang lagi asik makan omelet made iin bunda awalnya tidak terpengaruh dengan keramaian yang terjadi didalam bus yang heboh ketika ada seekor macan menyebrang jalan dan menghalangi bus yang kita naiki. Baru setelah ayah gendong kamu ke kaca dimana terlihat beragam binatang yang lucu dan menggemaskan senyuman Hanin mulai menghiasi suasana. Ha.. ha... ha..., dari banyak peserta yang ikut, ternyata lebih heboh para orangtuanya dibandingkan anak-anaknya. Jadi sebenarnya ini acara anak-anak apa sekumpulan orangtua yang norak ya ;-)

Turun dari bis kita semua mulai berpencar. Arena permainan pertama yang kita bertiga nikmati adalah naik kereta mini. Bersama tante Ipeh dan tante Risma, kita ikut mengantri kereta mini yang baru saja berangkat. Sayangnya gerimis yang berlangsung sedikit mengurangi kenyamanan kita menikmati jalannya kereta api. walaupun Hanin terlihat sangat senang karena gemericik air hujan yang mengenai sebagian tangan dan kaki. Bunda dengan sigap melindungi kepala hanin dari terpaan air hujan.

Selepas kereta pilihannya adalah antara makan dan sholat dzuhur. Dan kami semua memutuskan untuk makan dahulu mengingat Hanin, Abiayan, dan lifki belum sarapan berat. Gado-gado yang bunda pesan manya dimakan sedikit oleh Hanin. Ya Alhadullilah, setidaknya ada asupan berat yang masuk cetus ayah kepada bunda. 

Lepas dari makan dan ketika ayah membeli tiket bis keliling, ternyata tante Risma dan tante Ipeh meninggalkan kita. Jadilah kita bertiga bengong sendiri sebelum akhirnya memutuskan untuk naik bis keliling dan memutuskan untuk tidak turun di wahana koboy karena melihat kondisi Hanin yang terlelap dipangkuan bunda. Suara berisik dari pistol yang meletup-letup menjadi alasan utamanya. Begitu pula dengan wahana aneka satwa dan atraksi pinguin. Sampai diterminal bis keliling atas, kita turun dan sholat sambil menunggu Hanin terbangun lalu kita kembali berkeliling.

Ternyata ada yang penasaran loeh de, waktu ayah memutuskan untuk masuk ke rumah hantu, bunda terlihat ragu. teguran petugas yang tidak mengijinkan anak balita untuk masuk membuat bunda langsung spontan keluar dari barisan antrian. 5 menit setelah ayah masuk lengkap dengan cerita situasi dan keadaan didalam kembali membuat kebimbangan bunda bertambah, antara takut dan penasaran. Untung aja kita ketemu om Arif dan naila anaknya yang berusia sekitar 10 tahun. dorongan dari ayah untuk mengurangi ketakutan bunda ditambah keberhasilan ayah melobi kaka Naila untuk pindah duduk dengan bunda sementara Om arif duduk sendiri di depan mereka. 

ha..ha..ha.., tau nga nak, bunda keluar dengan tangan gemetaran dan muka yang sedikit pucat. sementara kaka Naila ter-senyum" sendiri. Bahkan sampai kerumahnya Om arif cerita sama ayah keesokan harinya kalau cerita Naila menemani bunda yang ketakutan diceritakannya kepada semua orang dirumahnya sebagai bagian dari rangkaian cerita Naila hari itu. 

Naik bangku melayang dengan dipangku bunda adalah momen yang baik buat Hanin untuk tampil berani walaupun pada awalnya sedikit takut dan tegang. Pelukan seorang ibu menurut ayah yang menjadikan Hanin nyaman dan mulai bisa tersenyum. Sehingga inilah saat yang tepat bagi ayah untuk mengabadikan momen tersebut lengkap dengan gambar hidupnya (video) karena posisi ayah yang berada didepan kalian membuat ayah leluasa mengambil gambar kalian. 

Makan sudah, melihat binatang juga sudah, keliling menaiki beberapa wahana seperti kincir angin, dan bangku melayang juga sudah. kini saatnya kita pulang. Persis jam 5 bis mulai bergerak pulang, walaupun merambat karena hujan dan kemacetan didaerah puncak, Alhamdullilah sekitar jam 8 kita sudah sampai kembali dikantor ayah. Hujan yang belum juga berhenti membuat Bunda memutuskan untuk naik taksi saja kerumah embahnya. Sepanjang perjalanan di bis hanin tertidur dengan lelap, mungkin setelah memulihkan tenaga, di taxi biru hanin terlihat ceria. mulai dari duduk dilantai taxi, melihat keramaian jalan jakarta dimalam hari sampai heboh membongkar plastik makanan yang diberikan oleh tante Nita di bis tadi pagi. Baterainya sudah penuh di charge nih bun, tutur ayah pada bunda.

Temu kangen bersama Embah dan Anti Indri lengkap dengan Hanin yang senang melihat binatang dan Ayah yang sempat berfoto bersama macan adalah rangkaian cerita yang tak henti-hentinya di tuturkan bunda kepada Embah dan Anti. Siangnya kita kembali pulang ke depok setelah sebelumnya mengambil motor dahulu dikantor ayah. Selepas sholat ashar kita berangkat melewati PGC sambil sekalian melepas magrib Bunda meminta ayah untuk mampir ke HookBen. Ada haru dan suka cita disana. Setelah sebulan lamanya Hanin kurang bernafsu makan, Ayah dan bunda seakan menemukan kembali Hanin yang hilang, seorang Hanin yang makan dengan lahapnya membuat bunda meneteskan air mata seakan menjawab doanya selama ini. Terimakasih Tuhan, engkau kembalikan nafsu makan anak kami. 

Minggu malam disertai gerimis perjalanan Menteng sampai PGC dan menyaksikan saat dimana Hanindiva makan dengan lahap serta perjalanan yang lancar dan selamat sampai kembali ke depok adalah rangkaian cerita yang selalu ayah dan bunda kenang. bahkan acap kali kita lewat depan PGC, bunda selalu tersenyum mengenang ini. Nga sia-sia antrian panjang saat keluar dari parkiran yang mengular ya yah, klo akhirnya kita bisa menyaksikan anak kita kembali makan dengan lahapnya. Allah membayar kesabaran kita dengan indah ya bun ..... ucap ayah sambil menggenggam tangan bunda yang melingkar di pingang ayah ketika kita berangkat kerja keesokan harinya. 

 












Selasa, 03 Juni 2014

TANGISAN PERTAMAMU

CERITA AYAH:

Sore kemarin selepas jam kerja, biasanya sebelum pulang ayah bersosialisasi sejenak menyapa teman atau sekedar membaca status mereka via FB. Silahturahmi yang murah meriah. kata orang bijak, silahturahmi itu mendatangkan rejeki dan memanjangkan usia. Tapi kali ini ayah dapat pesan menarik dari bunda kamu, iya, ternyata selepas turun dari bis bunda mampir dulu ke margo untuk beli buah buat kamu sambil sekalian cuci mata. Hasilnya, boneka lumba" biru berhasil dibawa bunda dengan harga 10 ribu. 

"Senengnya anaknya yahhh", kata bunda dengan gembira. sebenarnya ayah mau pulang tepat waktu, tapi maaf ya nak, kondisi ayah kemaren lagi kurang fit karena berolah raga tampa pemanasan dulu. Ceritanya, setelah ayah mengantarkan bunda ke sekolah, ayah mendapat sebuah musibah nak. Rantai motor ayah copot. Memang sih dah beberapa hari ini bunyinya mulai kencang, ayah pikir karena kering aja makannya ayah beli minyak rantai dan sebelum berangkat ayah sempat menyemprotkannya tapi justru malah jadi begini. Ya Sudahlah, kata Allah, Dia selalu punya rencana hebat atas umat-Nya. Dari pom bensin pemuda sampai utan kayu terpaksa ayah mendorong motor kita. Dan tadi pagi ayah penasaran mengitung jaraknya dengan cara menyusuri kembali rute dorong motor kemarin dan hasilnya keluarlah angka 2,3 KM. Alhamdullilah, ternyata karena ayah kurang olahraga, Allah memaksa ayah dengan caranya yang super Indah. 

Pulang selepas azan Isya ditambah kemacetan disekitar ps kramat jati menjadikan ayah semakin letih. Mungkin dengan menonton TV sambil makan beberapa potong kue bisa sedikit memberikan energi baru buat ayah. Eh ternyata bunda bangun nak. Rupanya dia lapar karena belum makan malam setelah menemanimu tidur pada jam 8 semalam. Sedangkan ayah baru sampai rumah jam 10. Yaaaaah, hari ini ayah belum beruntung nga bisa menikmati momen kamu melepas kantuk dan terlelap tidur. Hanindiva Amirah Mazaya anak ayah sudah tidur sebelum ayah sampai rumah. Tetapi sekali lagi Allah maha baek sama ayah. Pukul 10.30 atau ketika ayah mandi, sayup terdengar suara tangismu. 

Dengan kondisi yang segar selepas mandi ayah mendapai kamu sedang digendong bunda karena mau dibikinkan susu. Langsung aja dengan semangat ayah gendong kamu sambil ayah cium dengan penuh cinta. Terbayar sudah letih dan capainya setelah mencari nafkah seharian. ayah punya setegah jam waktu bermain dengan kamu. tapi sayang, kelelalah ayah tidak bisa maksimal menemani hanin bermain. Rasa lelah dan kantuk ayah memaksa ayah untuk mengistirahatkan raga ini. Dan bodohnya lagi, waktu yang sempit itu ayah isi dengan sedikit omelan karena cream penghilang gatal yang baru saja diolehkan bunda keleher Hanin yang gatal dijadikan mainan oleh kamu dengan cara ikut mengoleskan ke pipi kamu yang ngegemesin, seolah meniru bunda berdandan. Mungkin karena sedikit keras ayah memberitahukan bahayanya jika saja kena mata, dan hasilnya; ayah mendapatkan wajah Hanin yang sedih seakan mau menangis. Ini adalah tangis pertama kamu karena ayah. Mungkin karena baru bangun ya malam itu kamu sedikit melow, atau memang kamu sudah mulai mengerti dan bisa membaca situasi. Entahlah, yang jelas ayah jadi merasa bersalah banget dan memeluk kamu dengan penuh cinta. dan Subhanalloh-nya, kamu membalasnya dengan pelukan erat ke Ayah. Dari situ ayah berkesimpulan bahwa permintaan maaf ayah sudah diterima. makasih ya nak sudah mau memaafkan ayahmu. Sebelum sholat, ayah menerahkan kamu kembali ke bunda untuk minum susu. tak henti"nya ayah bersyukur kepada Allah atas 2 wanita hebat didepan ayah. Ya Allah terimakasih atas karunia yang engkau berikan ini, semoga menjadikan hamba orang yang slalu bersyukur kepadaMu. 

Oiya, Insya Allah cerita hari Sabtu, 31 Mei kemarin saat kita tamasya ke Taman Safari dirangkai dengan cerita kita Mudik ke gondrong setelah pulang dari Taman Safari dan kembali keesokan harinya lengkap dengan momen hebat Hanindiva di HokBen akan ayah coba rangkai dicerita ayah berikutnya. Doakan ayah bisa tetap sehat dan kuat ya nak...

HR Building, Selasa 3 Juni 2014. 08.04 WIB

Rabu, 21 Mei 2014

PINDAH KE DEPOK, dari rumah embah kerumah enin

CATATAN BUNDA:

Jumat, 27 April 2014, dengan berat hati ayah dan bunda memutuskan untuk mempekerjakan seorang pengasuh bernama Winda yang berusia sekitar 16 tahun bagi hanin anak bunda tercinta. sebenarnya bunda lebih memilih untuk tetap tinggal di gondrong dengan Anti Indri dan embah sebagai pengasuh kamu ketika bunda bekerja. Disamping tentu saja lebih memiliki kepercayaan terhadap mereka, bunda juga lebih yakin 100 % atas pertumbuhan terbaik anak bunda tercinta dilingkungan orang-orang yang memang mencintai kamu dengan tulus ikhlas.Tapi ternyata ayah kamu punya pemikiran lain. 
Berawal dari telp enin 2 hari yang lalu yang memberitahukan bahwa ada pengasuh yang ingin kerja dan katanya mencintai anak serta beberapa rentetean kejadian yang membuat kami terpaksa mengambil keputusan seperti ini. 
Ceritanya dimulai dari kesuksesan Anti Indri meraih gelar sarjana kependidikannya, adalah menjadi sesuatu yang ironis bagi kami berdua klo tidak memberikan kesempatan kepada Anti untuk menikmati suka dukanya menjadi seorang guru sebelum kelak akhirnya beliau menikah. Sedangkan jika embah sendirian mengasuh kamu dengan segala keterbatasannya adalah alasan utama akhirnya bunda dan ayah memutuskan hal ini. Bunda harap, suatu saat ketika kamu kelak membaca tulisan ini, hanin bisa sedikit memiliki gambaran mengapa kami memutuskan hal ini walaupun dari awal sudah bunda bilang klo ini adalah keputusan yang berat yang harus kita ambil. 

Kami juga harus pindah ke depok karena ketidak-adaannya kamar kosong buat pengasuh kamu, karena kamar embah saja ditempati berdua dengan anti Indri, walaupun bunda sempat memaksa ayah untuk menempatkan Winda dengan Anti Indri dan dengan berat pula ayah TIDAK MENGABULKANNYA. ;-( "Mungkin situasi dan kondisinya akan berbeda klo saja kita sudah bisa membikin kamar untuk Winda? cetus ayah berusaha sebijak mungkin") 
Alasan lainnya adalah Winda merasa sedikit keberatan jika saja harus bekerja di Gondrong karena harus berjauhan dengan saudaranya yang bekerja juga tidak jauh dari rumah enin, walaupun bunda pernah meyakinkan ke ayah bahwa Winda sudah bersedia untuk ikut kita ke gondrong. Mudah-mudahan saja ayah tidak membaca sms keberatan Windadi handphone bunda.

Sebenarnya Ayah juga berat hati untuk pindah ke Depok, karena secara otomatis ada 2 dapur yang harus kita berdua tanggung karena Anti indri belum memiliki penghasilan. Dan jika bunda berhenti bekerja tentu saja akan sangat berat jika ayah yang harus menanggung semuanya. memang sih, ada beberapa pos pengeluaran yang pasti bisa dihilangkan karena bunda berhenti bekerja seperti transport dan makan bunda. tetapi bunda akan kehilangan kebahagiaan untuk mengasuh kakak-kakak kamu disekolah disamping sebagai sumber nafkah tambahan; kata enin pekerjaan bunda itu mulia dan seandainya bisa disambi toeh nda ada salahnya dikerjakan. Guru itu juga banyak liburnya dan jam kerjanya tidak full seperti pekerja kantoran biasa nasihat Enin kepada kita berdua waktu itu.

Dengan mengucapkan Bismillah, pada hari kamis, 1 mei 2014 yang merupakan hari libur nasional kita resmi pindah ke depok dengan naik taksi dengan argo sekitar 200 ribu. Berangkat selepas ashar dan sampai beberapa saat sebelum azan magrib berkumandang. Insya Allah semoga keputusan ini merupakan keputusan terbaik buat semua dan juga diridhoi Allah. aamieen

Kamis, 06 Maret 2014

Manusia hanyalah sebuah wayang

Cerita ayah:
Sebagaimana firma Allah, “Dan benar-benar akan Kami berikan ujian kepada kamu semua dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat selawat (keselamatan) yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” 
(Surah al-Baqarah, 2: 155-157)
Ayat ini merupakan salah satu pegangan ayah waktu menghantarkan hanin ke rumah sakit ditengah malam dan mendengar vonis dari dokter jaga di UGD RS Hermina Daan Mogot yang menyatakan Hanin positif terkena DBD (diaknosa pada saat itu karena hasil lab pemeriksaan darah menunjukkan angka minus lumayan manyak pada hemoglobinnya-salah satu indikasi gejala DBD) 
Sebagaimana cerita ayah sebelumnya, malam itu ayah dan bunda mengantarkan kamu berobat ke rumah sakit dengan harapan suhu tubuhmu yang mencapai 39.5 derajat bisa segera berangsur turun sehingga mengurangi kemungkinan kejang walaupun hingga saat ini kamu belum pernah punya riwayat kejang. Dan Syukur Alhamdullilah, semuanya kini telah berlalu dengan baik. 


Engkau lagi disayang Allah nak, ucap ayah pelan. Ya Allah, kuatkanlah kami dalam menghadapi ujian ini. Walaupun kita sebenarnya tahu, bahwasanya dibalik sakit itu ada beberapa hikmah yang bisa kita dapatkan, mulai dari menggangkat derajat kita dihadapat mahluknya yang lain sampai sebagai penyebab dari penggugur dosa dan kesalahan kita. Ada satu lagi kuasa Tuhan yang ayah sama bunda rasakan dan menjadi penguat kita berdua dalam beribadah kepadanya; ternyata, sakit itu bisa juga memperlancar rezeki kita. Terlebih disaat ayah sedang bingung membayar uang muka untuk mendapatkan kamar perawatan, Allah menunjukkan kuasanya. Alhamdullilah kartu kredit ayah bisa menanggung untuk sementara. 
Dengan maksud memberitahu bagian HRD kantor ayah dan bunda, berita megenai dirimu yang menjalani perawatan dirumah sakit spontan mendorong rekan kerja ayah dan bunda untuk turun serta meringankan biaya dengan cara urunan. Disinilah kuasa Allah kemudian bekerja. Allah jualah yang menggerakkan orangtua murid bunda melalui koordinator kelas dimana bunda mengajar untuk juga turut berpartisipasi. Singkat cerita, walaupun kami orangtua kamu yang seharusnya bertanggungjawab atas biaya rumah sakit kamu, seluruh biaya yang harus kami bayarkan kerumah sakit tertutup semua. Sekali lagi kami berdua mengucap; Allah memang sayang sama kamu nak. Allah memberikan kamu sakit supaya kamu lebih banyak menghabiskan waktu bersama kami, dan dari keiklasan yang berhasil kita jalani, DIA pula yang membalasnya dengan cara yang Indah. 





Kehadiranmu berkah dari do'a semua orang, sakitmu menjadi jalan orang-orang yang mencintaimu untuk menjadikan ladang amalnya, dan sehatmu bahagiakan semua orang yang melihatmu. Sekali lagi kami sebagai orangtua kamu cuma bisa berucap; Alhamdullilah, terimakasih Allah. Kau jadikan Ia sehat kembali. Allah memang tidak pernah memberikan sebuah cobaan kecuali sesuai dengan kemampuan hambanya. Manusia hanyalah wayang, dalang dan penentu lakonnya hanyalah kuasaNYA. 
Seharusnya kalau kita sudah tau, seberat apapun masalah kita, kenapa harus takut? bukan begitu kawan, nasihat sahabat saya sambil berlalu meninggalkan ayah yang termenung meresapi kalimat bijaknya. Benar kawan, kita cuma sebuah wayang saja, skenario dan dalangnya sudah tersirat jauh sebelum kita ada.



Jumat, 06 Desember 2013

CAMPAK yang tidak boleh dicampakkan sembarangan

Cerita Ayah:
Jum'at 29 Desember 2013 sekitar jam 10 pagi tiba' hanin mulai panas, dan sekitar jam 2an bunda nge-forward ayah sms dari anti indri mengenai pemberitahuan panasnya hanin. Awalnya ayah pikir cuma panas biasa walaupun belajar dari pengalaman kaka alisa yang pernah masuk ICU gara” kena demam panas tinggi, ayah nga mau menyepelekan panas hanin. Tepat jam 5 ayah matikan komputer dan ingin sesegera mungkin sampai kerumah walaupun hujan dan petir mulai terlihat menunjukkan aktifitasnya tidak menyurutkan niat ayah untuk segera mengecek kondisi hanin. 6.20 ayah sampai dan melihat hanindiva sedang dipeluk bunda dengan kompres di kening sudah membuat ayah terenyuh sedih. Ya Allah, anak yang sedang lincah belajar berjalan dengan tertatih tak kenal putus asa, anak yang selalu ceria dan sangat senang memberikan senyumannya kepada semua orang yang ditemuinya kini terlihat lemas dan tak berdaya.
“Terakhir bunda ukur sudah 39 º C yah” kata bunda seakan menjawab tatapan ayah kepadanya. Ya Allah, sebegitu tingginyakah demam anakku. Walaupun dengan sekuat tenaga ayah berusaha menenangkan diri, karena ayah tau, bunda tidak boleh melihat kekhawatiran sedikitpun dari ayah – agar semuanya bisa berpikiran dengan tenang. Ayah sholat magrib dulu, bunda nyiapin keperluan dede lalu kita berangkat ke dokter. Kata ayah sambil mengusap kening hanindiva dengan lembut.
18.45 ayah sama bunda bawa hanindiva kesebuah klinik ibu dan anak disamping pom bensin kosambi. Dengan harapan ada dokter anak yang praktek saat itu, namun dugaan ayah meleset, disana hanya ada bidan dan dokter umum saja yang praktek, sedangkan dokter anaknya baru mulai praktek disana tanggal 3 desember dengan jadwal praktek setiap selasa dan kamis. Sekitar pukul 08 giliran kita dipanggil. Setelah memeriksan dan memberikan diaknosa bahwa hanin terkena virus, dan itu adalah hal yang biasa buat anak bayi terutama saat cuaca yang kurang bersahabat saat ini. Sedikit menenangkan kita semua. Pemberian obat penurun panas dan antibiotik setidaknya menjadi salah satu bentuk ikhtiar kami sebagai orang tua disamping Doa kepada Allah.
Sebenarnya ada hal yang perlu engkau ketahui nak, ayah sama bunda sudah berencana untuk mengadakan syukuran 1 tahun kelahiran hanin yang telah memberikan jutaan kebahagiaan disetiap senyum yang kamu lepaskan kepada kami semua di depok sambil bersilahturahmi kepada enin dan om sulis. Kaka alisa dan kaka rani juga sudah nga sabar ingin memberikan kado buat hanin, sayang manusia hanya bisa berencana, tuhan pula yang menentukan. Perayaan ulangtahun pertamamu justru dirayakan di rumah sakit. 
 
HERMINA Daan Mogot, 2 - 5 Desember 2013
Ayah memutuskan untuk membawa hanindiva ke RS hermina daan mogot pada minggu dini hari (sekitar pukul 11.30) ketika bunda memberitahukan kepada ayah hasil pengukuran suhu kamu yang mencapai diatas 39 º C. Dokter UGD Hermina berkesimpulan bahwa hanin terkena DBD setelah melihat hasil cek darah dan trombosit kamu yang cukup rendah untuk ukuran normal. Ya Allah, engkau lagi disayang tuhan nak, ucap ayah dalam hati. 
Hari demi hari dilalui ayah dan bunda bersama kamu dirumah sakit. Mulai dari mencari kamar buat kamu, mencari makan malam buat ayah dan bunda, ngambil air panas dikamar mandi buat ngompres panas hanin dan sebagainya. Dari kesemua cerita itu, ada 1 hal yang kamu harus ingat nak, pengorbanan ayah dan bunda tidak menuntut balasan kamu. Ayah sama Bunda cuma ingin, ketika kelak kamu dewasa, jadilah anak yang bisa menjaga kehormatan kami. Jangan kau rusak apa yang sudah kami tanamkan kepadamu sejak kecil. Jadilah anak yang Sholeha, pemimpin peremuan yang pandai dan amanah sesuai dengan arti nama yang kami berikan kepadamu.Hari kedua bercak merah pada kulit hanin mulai bermunculan atau stilah kedokterannya ruam kulit. dari situ dokter berkesimpulan, sepertinya kamu tidak sakit DBD nak, tapi sakit campak. dan untuk menyakinkan diaknosanya dokter meminta untuk cek DBD, setelah 3 kali pengambilan sample darahnya hanya untuk melihat perkembangan kenaikan drombositnya saja. Rupanya gejala DBD sama campak adalah serupa tapi tak sama. Ruam pada kulit yang membedakan keduanya. kalau DBD berupa titik kecih halus, sedangkan Campak berupa ruam besar cenderung sedikit kasar jika diraba.

4 hari kamu dirawat nak, 3 hari dikelas 3 dan 1 malam di ruang isolasi adalah pengalaman kedua hanindiva menginap dirumah sakit setelah sebelumnya di RS Kartini saat kamu lahir pada 16.11.2013. Banyak cerita yang Insya Allah ayah tulis lagi disini mengenai pengalaman bunda sama ayah mengusahakan kesembuhan hanindiva di rs hermina daan mogot semoga bisa menjadi cerita buat kamu dewasa kelak nak. Salah satunya adalah cerita ini:

 “Bapak pake asuransinya apa?” Tanya bagian administrasi ketika ayah mencari kamar perawatan buat kamu, dengan sedikit tersenyum ayah menjawab “IAR”
“apa toeh pa?” “Insya Allah ada Rezekinya jawab ayah sambil mengangkat tangan memberikan kode jari menunjuk keatas” dan dibalas juga dengan senyum simpul frontliner hermina daan mogot yang setidaknya saat itu bisa sedikit menghibur hati ayah yang sedang gundah.
Maafkan ayah ya nak, ayah belum mampu memberikan kamu kenyamanan yang lebih layak ketika kamu sakit kemaren. Allah sudah mengatur yang terbaik buat kita.






Jumat, 15 November 2013

1 tahun pertama

Rasanya masih tergambar dengan jelas peristiwa saat dimana engkau terlahir kedunia ini dalam bayangan ayah. Detik-detik dimana tubuhmu yang berlumuran cairan ketuban dan darah dibersihkan oleh perawat RS Kartini sesaat setelah engkau dipisahkan dari ari-ari tempatmu berlindung selama kurang lebih 9 bulan oleh dr Bambang yang membantu persalinan bunda , 16 November 2012. Beberapa detik kemudian seorang bidan yang turut membantu persalinan dr Bambang memanggil ayah guna menanyakan apakah ayah ingin mengazankan kamu. Inilah saat pertama kali ayah dan kamu saling berpandangan, Isak tangis kamu bahkan langsung terhenti seketika dan menatap dalam wajah ayah untuk pertama kalinya seolah-olah ingin memperkenalkan diri kepada ayah kalau bayi yang selama ini dinantinya kini telah berada dihadapan ayah dan membuat ayah terkesima untuk beberapa saat sampai panggilan kedua menyadarkan kita berdua.
Robbi Hablii Minash Shoolihiin - Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang sholeh.  (QR. Ash Ahaffaat: 100)

Hari-hari selanjutnya adalah hari yang penuh dengan warna. Bagi sebagian orang, kehadiran seorang anak merupakan harapan terbesar mereka. Ayah punya seorang teman yang bahkan sampai harus menjalani terapi yang cukup mahal demi mewujutkan keinginan tersebut..
Ayah ingat bagaimana sedihnya bunda ketika mendapati kalau dirinya kembali mendapatkan halangan walaupun usia pernikahan kita baru seumuran jagung. Begitu pula rasa bahagianya ayah dan bunda ketika mendapatkan hasil tes kehamilan bunda ternyata positif.

Torehan warna pertama yang berhasil hanin bikin adalah saat-saat dimana pertama kali rombongan kamu sampai dirumah setelah dianggap aman oleh tim medis. Setibanya kamu dirumah, telah menunggu serangkaian prosesi adat yang coba untuk diterapkan oleh kakak kandung embah kamu; mulai dari menaruh daun pandan diatas pintu kamar, mengeprak-ngeprakkan sapu lidi beberapa kali dikasur kita yang konon katanya sebagai  pemberitahuan awal kehadiranmu dirumah kepada semuanya baik yang terlihat maupun yang tersamar, serta beberapa prosesi turunan lainnya. Sebenarnya terlintas dalam pikiran ayah untuk menyudahi semua prosesi tersebut karena menurut ayah sudah banyak yang keluar dari syar'i Islam. Tapi dengan beberapa pertimbangan, disamping tidak ingin merusak suasana bahagia yang telah terbangun, akhirnya ayah memilih untuk mengalah dengan keadaan demi sebuah tekat kuat; melindungi keluarga ayah dari api neraka. Belajar meninggalkan yang salah dan mencoba memulai semuanya sesuai dengan tuntunanNya.

Torehan warna berikutnya adalah, melihat kamu tumbuh. Awal kehadiranmu lebih banyak diisi dengan tidur, menangis, dan kembali tidur lagi. Mother training juga mulai dilaksanakan bunda kamu, mulai dari belajar menyusui, berusaha untuk menyelimuti kamu dengan kain bedong walaupun hanya bertahan beberapa menit saja. Ayah tau, kondisi saat itu adalah musim panas sehingga ayah sangat merasakan betapa tersiksanya hanin yang dibentuk sedemikian rupa seperti lemper, terbungkus rapi dan sukar untuk bergerak. 

Pelajaran training selanjutnya adalah memandikan bayi. Ya, seperti banyak ibu baru lainnya, memandikan bayi merupakan pelajaran tersulit. Disamping kondisi bayi masih dalam masa rawan, luka tali pusar juga masih basah dan harus tetap dibiarkan seperti adanya, tidak boleh basah, tidak perlu diberikan obat-obatan, sampai hanin mengalami "puput puser" suatu keadaan dimana sisa tali pusar antara perut dan ujung potongan yang menempel di ari-ari kamu putus dengan sendirinya karena kering. Pesan dari dokter, bidan dan perawat sebelum meninggalkan kantor mereka. Sebuah pesan sederhana tapi cukup sulit untuk dilakukan. Selama 1 minggu bunda belajar memandikan hanin dengan ibu sop, seorang perempuan setengah tua tetangga kita yang berprofesi sebagai tukang urut, dan kebetulan juga baru memiliki cucu. Kadang terlihat cukup ngeri juga memang, mulai dari menengkurepkan paksa kamu dikakinya, sambil menekan sana sini dalam keadaan tangan penuh busa sabun. Menyiram muka kamu yang tengah ngo-ngosan ngambil napas lalu mengangkat keluar dari bak mandi untuk menyelimuti dengan handuk lembut. Dan sepertinya beliau bisa membaca kekhawatiran kita semua dengan mengatakan bahwa apa yang kita lihat tidaklah seburuk yang kita prasangkakan. Terbukti memang, biasanya setelah prosesi memandikan selesai, kamu terlihat sangat nyaman. Bahkan ciuman kami tak bisa membangunkan kamu dari mimpi indahmu. Sekali lagi rasa syukur kami atas semua ini. Allah memang maha pengasih.
Saatnya praktek sendiri, ya- seminggu sudah mother training dijalani bunda. Kini bunda harus bisa melakukannya semuanya sendiri. Diantara rasa sakitnya yang masih terasa, bunda harus belajar beranjak dari tempat tidur, entah itu sekedar mengganti popok kamu yang basah, atau memang aktifitas pribadinya sendiri seperti ke kamar mandi, makan atau sekedar mencari hiburan di televisi sambil menantikan ayah pulang dari kantor. 

Kontrol pertama dengan diantar oleh mobil tetangga berhasil memasangkan anting di kedua telingan hanindiva sekaligus kontrol bunda. Walaupun tangisan hanin terdengar pelan sesaat prosesi pelubangan telinga berlangsung, yang menurut cerita bunda lebih disebabkan oleh rasa terusiknya kamu karena terbangun dari buaian mimpi bayi yang indah. Acara berikutnya adalah kontrol orang tua. Mungkin karena beragam aktifitas yang dilakukan bunda; 3 jahitan bekas lahiran bunda kembali terbuka. Dengan sedikit memaksa, bunda minta diantar pulang saja dengan alasan akan kembali kontrol dengan ditemani ayah.
Rupanya rasa trauma bunda terhadap jarum suntik, memaksa ayah untuk kembali membawa pulang bunda tampa ada tindakan medis yang bisa dilakukan. Walaupun saat itu, 2x cairan anestesi telah disuntikkan ke tubuh bunda. Syukur Alhamdullilah, kontrol dokter keesokan harinya yang tidak diantar ayah membuahkan hasil. Jahitan bunda berhasil disambung kembali walaupun ayah tau, bunda sangat berusaha membunuh rasa takutnya dengan sekuat tenaga.  


Tantangan pertama dimulai
Ketika tibalah saatnya bunda harus kembali mengajar, dan melanjutkan aktifitas kesehariannya. Ratmi, adalah orang yang kita percayai mengurus kamu pada saat bunda bekerja disamping anti indri dan embah tentunya. Beragam petunjuk dibuat bunda demi hanindiva tercinta. Mulai dari jadwal pemberian susu, segala hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam memperlakukan kamu, sampai pernak pernik keseharian kamu secara detail adalah hal rutin yang pasti ditanyakan bunda setiap sampai dirumah. Ayah juga mendukung dengan mensuplai bunda bacaan hasil searching dari mbah google disela-sela kesibukan ayah dikantor.
Tak terasa kini setahun sudah engkau bersama-sama dengan kami dan memberikan kebahagiaan yang tidak ternilai harganya sampai detik ini. Hanindiva Amirah Mazaya, Sebuah perpaduan nama ayah dan bunda. Iya, engkau adalah buah hati kami semua. 

Mungkin kita sering mendengar bahwa surga dibawah telapak kaki ibu, atau seorang Rosullowloh Muhammad SAW bahkan sampai menyebutkan ibumu sebanyak 3 x sebelum akhirnya menyebut ayahmu ketika ditanya seorang sahabat mengenai siapa orang yang wajib kita perlakukan dengan baik.. Tadi malam saya sempat berpikir sebegitu mulianyakah seorang wanita diperlakukan oleh agama Islam.
Banyak referensi yang pernah saya baca bahwasanya kala Islam mulai tumbuh, adalah sebuah masa dimana perempuan itu berada ditempat yang paling hina. Bahkan seorang ayah akan tega menguburkan anak perempuannya hidup-hidup demi menutup aip karena memiliki seorang anak perempuan dalam keluarganya. Sejenak aku berpaling kekiri melihat anak perempuanku yang slalu aku ciumi disetiap malam sebelum tidur, dan biasanya dengan cantiknya dia akan mengusap pipinya dengan lembut seakan-akan menjawab cinta tulusku yang slalu kucurahkan kepadanya. Sambil sejenak aku perpikih, sungguh bodoh manusia yang menyia-nyiakan hidupnya melepaskan kesempatan melihat seorang anak perempuannya tumbuh menjadi gadis manis. Bahkan hingga detik ini aku tidak pernah ragu untuk membatalkan setiap acara yang sekiranya tidak terlalu penting demi menghabiskan waktu bersama dan melihat anakku tumbuh besar. Dalam 1 minggu, aku mambagi waktu selama 5 hari untuk mencari nafkan dan merelakan waktu berharga bersama anakku, dan rasanya teramat sayang sekali apabila 2 hari waktu tersisaku dalam 1 minggunya yang seharusnya kuhabiskan bersama keluarga kecilku juga harus ku korbankan untuk hal yang kurang penting..

Seakan menjadikan penyempurna malamku sebagai seorang ayah yang bahagia melihat  anakku tertidur dengan cantiknya bersama Istriku tercinta disampingnya adalah 2 buah anugrah yang sempurna buatku. 2 wanita cantik dalam hidupku yang sangat kucintai.

Rabu, 06 November 2013

Tak selamanya bawang putih itu baik

CERITA AYAH

Mungkin kamu pernah membaca tulisan ayah berjudul bawang putih dan bawang merah yang menceritakan mengenai pengasuh kamu yang ayah ibaratkan laksana dongeng bawang merah dan bawang putih. ternyata bawang putih yang selama ini ayah kira baik, lebih jahat dari pada bawang merah. 
Berawal dari smsm bunda ke ayah pada 26 April 2013 jam 11.28 yang berisi mengenai perihal hilanggnya kalung bunda, berakhir dengan sebuah cerita sedih. Ayah sampai merasa bersalah karena membentak bunda atas kecurigaannya kepada ayah mengenai hilangnya kalung bunda. memang sih nga sepenuhnya salah bunda juga, karena beberapa hari sebelumnya ketika bunda mengeluh mengenai kondisi keuangan kita, ayah dengan bercanda menimpali dengan kalimat "kan bunda masih punya kalung toeh yang bisa dijual"

Dari berbagai indikasi yang ada, walaupun ayah belum punya bukti yang bisa dijadikan pegangan- melihat alibi yang ada, berindikasi kuat bahwa bawang putih yang ayah percaya ternyata tidak lebih daripada seorang musang berbulu domba. Ketika mbah dan bawang putih sedang bersandau gurau - saat itu anti indri sedang tidak ada dirumah, bawang putih menyarankan mbah untuk mandi karena kebetulan kamu sedang tidur nyenyak, disaat yang sama pula bawang putih menyelinap kedalam kamar dan terindikasi mengambil kalung emas seberat kurang lebih 5 gram yang ayah kasih kepada bunda sebagai mas kawin pernikahan kami ditambah sebuah cincin bermata mutiara hadiah dari enin kepada semua anak & mantunya telah hilang dari tempatnya. 

Indikasi awalnya adalah:
1. Bawang putih terobsesi sekali untuk memiliki kulkas sampai harus bersusah payah mencari utangan kesana sini (sampai berani berutang ke om bambang teman dekatnya anti Indri)
2. Bawang putih langsung mengganti nomer telp dan berencana pindah kontrakan setelah kejadian berlangsung (beberapa hari setelah bunda menanyakan perihal kehilangan tersebut kepadanya)
3. Bunda sempet menanyakan ketemen kantornya yang konon katanya bisa melihat hal-hal gaib. disana digambarkan dengan jelas bahwa ciri khas pencurinya menyerupai fisik bawang putih
4. Ketika ayah menelepon suami bawang putih untuk mengajak bertemu muka, dengan gamblang beliau mengatakan, memang ada apa mas? apa istri saya mencuri?. padahal ayah cuma mau mengajaknya bersilahturahmi saja
5. Serta membaca dari gestur dan raut muka bawang putih yang meledak-ledak dan menggiring kita semua untuk percaya bahwa saat itu sedang ada tuyul yang berkeliaran mencari mangsa didaerah kontrakannya lengkap dengan cerita mengenai korban yang berjatuhan yang ayah kira itu hanya rekayasa saja.

Dengan berat hati kemudian ayah memutuskan bahwa kita musti meng-ikhlaskan semuanya. karena Allah pasti mengganti dengan yang lebih baik, walaupun ayah harus menyakinkan semuanya bahwa itu adalah pilihan terbaik buat semua. Memang kadangkala keiklasan adalah sesuatu yang mudah untuk diucapkan dan sukar untuk dilaksanakan. 

Apapun akhir ceritanya, ayah yakin, hanya itu pilihan terbaik untuk saat ini, walaupun saat ketika ayah kedapatan bertemu muka dengan tersangka, ada sedikit rasa menyesakkan didada ini. Dari semua kejadian itu, ayah hanya minta kepada-Nya semoga itu memang pilihan terbaik buat kita, selebihnya biar Allah yang tentukan endingnya.
kreavi.com